Sabtu, 03 November 2012

makalah sterilisasi



TUGAS KELOMPOK MK. ASKEB II
STERILISASI DENGAN KIMIAWI
AKADEMI KEBIDANAN YLPP PURWOKERTO


BAB 1
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Sterilisasi adalah tindakan yang dilakukan untuk mnghilangkan semua mikroorganisme termasuk endospora bakeri dari benda - benda mati/instrumen. Sterilisasi dapat dilakukan dalam beberapa cara salahsatunya  dengan bahan kimia.Banyak zat kimia dapat menghambat atau mematikan mikroorganisme berkisar dari unsur logam berat seperti perak dan tembaga sampai kepada molekul organik yang kompleks seperti persenyawaan amonium kuartener. Berbagai substansi tersebut menunjukkan efek anti mikrobialnya dalam berbagai cara dan terhadap berbagai macam mikroorganisme. Efeknya terhadap permukaan benda atau bahan juga berbeda – beda. Ada yang serasi dan ada yang bersifat merusak. Karena ini dan juga karena variabel – variabel lain, maka perlu sekali diketahui terlebih dahulu perilaku suatu bahan kimia sebelum digunakan untuk menerapkan praktis tertentu. Dalam  makalah ini akan dijelaskan beberapa kelas persenyawaan yang digunakan untuk mengendalikan populasi mikrobe, menguraikan cara kerjanya, serta menunjukkan penerapan praktisnya. 

B.     PEMBATASAN MASALAH
Dalam makalah ini membahas hanya seputar sifat, kegunaan dan cara dari  bahan – bahan kimia yang sering digunakan dalam sterilisasi.



C.     TUJUAN
Adapun tujuan dari makalah ini diharapkan dapat :
1.      Menambah pengetahuan mahasiswa khususnya dalam melakukan sterilisasisecara benar
2.      Mengetahui bahan kimia yang digunakan dalam sterilisasi
3.      Mengaplikasikannya di dalam masyarakat sebagai bentuk perlindungan infeksi.
















BAB II
ISI

Beribu – ribu zat kimia untuk dipakai mengendalikan mikroorganisme. Penting sekali untuk memahami ciri – ciri pembeda masing – masing zat ini dalam hal mikroorganisme apa saja yang dapat dikendalikan serta bagaimana zat – zat tersebut dipengaruhi oleh lingkungan pakainya. Setiap zat kimia mempunyai keterbatasan dalam keefektifannya, bila digunakan dalam kondisi praktis, keterbatasan – keterbatasan ini perlu diamati. Lagi pula, tujuan yang dikehendaki dalam pengendalian mikroorganisme tidak selalu sama. Pada beberapa kasus mungkin perlu mematikan semua mikroorganisme (sterilisasi). Sedangkan pada kasus lain mungkin cukup mematikan sebagian besar mikroorganisme tetapi tidak semua (sanitasi). Dengan demikian pemilihan suatu bahan kimia untuk penggunaan praktis dipengaruhi juga oleh hasil antimikrobial yang diharapkan dari padanya.
Cara kerja zat – zat kimia dalam menghambat atau mematikan mikroorganisme itu berbeda – beda. Beberapa di antaranya mengubah struktur dinding sel atau membran sel dan yang lain menghambat sintesis komponen – komponen selular yang vital atau yang mengubah keadaan fisik bahan selular. Pengetahuan mengenai perilaku khusus tentang bagaimana suatu zat kimia menghasilkan efek anti mikrobial itu sangat berguna baik untuk mempertimbangkan kemungkinannya bagi penggunaan praktis maupun untuk mengusulkan perbaikan – perbaikan apa yang mungkin dilakukan untuk merancang bahan – bahan kimia baru.
Perkembangan produk – produk baru kadang – kadang mengisyaratkan perkembangan metode – metode baru untuk sterilisasinya. Misalnya, alat – alat kedokteran yang terbuat dari plastik tidak dapat disterilkan dengan autoklaf tanpa merusaknya sehingga dikembangkan peralatan komersial yang menggunakan etilenokside. Bahan – bahan kimia baru masih terus – menerus disintesisi dan dievaluasi kemampuan antimikrobialnya dengan harapan dapat menemukan bahan – bahan antimikrobe yang lebih efektif.
Kelompok utama zat kimia yang bersifat antimikrobial :
KELOMPOK UTAMA
MEKANISME KERJA
CIRI TAMBAHAN
PERSENYAWAAN SPESIFIK
KEGUNAAN YANG DIANJURKAN
KETERBATASAN
Fenol dan persenyawaan fenolik
Mendenaturasikan protein ;
Merusak membran sel
Turunannya (heksilreksorsinol) dan menurunkan tegangan permukaan
Kresol (lebih germisidal daripada fenol) ; heksilreksorsinol
Desinfektan umum
Keefektifan mikrobial terbatas, mengakibatkan iritasi dan karat
Alkohol
Mendenaturasikan protein ;
Merusak membran sel ;
Sarana dehidrasi ;
Aksi deterjen

Makin banyak karbon dalam alkohol membuatnya makin germisidal
Metil (sifat bakterisidal paling kecil, paling beracun) ; etil (paling kurang beracun, digunakan dalam kosentrasi 50 – 70 %) ; propil butil, amil, dsb.
Antiseptik kulit. Pada konsentrasi 60 % mematikan virus bila tak ada bahan organik asing
Antiseptik
Halogen Iodium
Halogenasi tiroksin ;
Menginaktifkan enzim dan protein
Efektif terhadap bakteri dan spora
Iodium tinktur (dilarutkan alkohol) ; iodofor (+zat aktif permukaan)
Disinfeksi kulit
Mengiritasi selaput lendir
Klor (dan persenyawaanya
Bergabung dengan protein membran sel dan enzim
Klor digunakan untuk mendisinfeksi air ; persenyawaan klor lebih mudah digunakan dan banyak aplikasinya.
Hipoklorit (sanitasi perabotan dan peralatan) ; kloramil (oksidator)
Disinfeksi air
Diinaktifkan oleh bahan organik ; keefektifannya bergantung pada Ph ; rasa dan bau tidak sedap kecuali bila dibawah pengawasan ketat
Aldehide
Memecah ikatan hidrogen ;
Mendenaturasikan protein ;

Efektif terhadap semua mikroorganisme kecuali spora bakteri
Glutaraldehide
Mensterilkan perkakas fumigasi
Kestabilan terbatas, tidak sporisidal



Fermaldehide ; larutan formalin
Mensterilkan peralatan ; fumigasi ; pengawetan jaringan
Daya rembes kurang ; menimbulkan karat
Komosterilisator gas
Etilenokside mengakilasi senyawa organik ;
Menginaktifkan enzim
Mematikan semua bentuk kehidupan
Etilenokside
Mensterilkan benda peka panas, perkakas, peralatan besar dan kasur
Mudah terbakar ; dapat meledak dalam bentuk murni ; bekerja lambat
Persenyawaan amonium kuarterner (deterjen kationik)
Mendenaturasikan protein ;
Merusak membran sel
Lebih germisidal daripada deterjen lain ; kebanyakan bakterisida terhadap bakteri gram positif fungisidal
Setilpiridinium kloride ; zephiran, phemerol
Disinfeksi kulit, sanitiser
Tidak sporosidal



Ciri – ciri suatu disinfektan yang ideal
Tidak ada satupun zat kimia yang terbaik bagi semua tujuan.
-          Aktivitas antimikrobial
Memiliki aktivitas antimikrobial dengan spektrum luas
-          Kelarutan
Dapat larut
-          Stabilitas
-          Tidak bersifat racun bagi manusia maupun hewan lain.
-          Keserbasamaan (homogeneity)
-          Tidak bergabung dengan bahan organik
-          Aktivitas antimikrobial pada suhu kamar atau suhu tubuh
-          Kemampuan untuk menembus
-          Tidak menimbulkan karat dan warna
-          Kemampuan menghilangkan bau yang kurang sedap
-          Berkemampuan sebagai detergen
-          Ketersediaan dan biaya
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih bahan antimikrobial kimiawi dengan tujuan praktis:
-          Sifat bahan yang akan diberi perlakuan
-          Tipe mikroorganisme
-          Keadaan lingkungan.
Menurut Lay dan Hastowo (1992), bahan yang menjadi rusak bila disterilkan pada suhu yang tinggi dapat disterilkan secara kimiawi dengan menggunakan gas. Bahan kimia yang sering digunakan antara lain :
1) Alkohol
-          Daya  kerjanya adalah mengkoagulasi protein
-          Cairan alkohol yang umum digunakan berkonsentrasi 70-80 % karena konsentrasi yang lebih tinggi atau lebih rendah kurang efektif.
2) Khlor
·         Gas khlor dengan air akan menghasilkan ion hipokloride yang akan mengkoagulasikan protein sehingga membran sel rusak dan terjadi inaktivasi enzim.
3) Yodium
·         Daya  kerjanya adalah bereaksi dengan tyrosin, suatu asam amino dalam emzim atau protein mikroorganisme.
·         Antiseptik berbasis iodium tidak tepat bila digunakan pada sterilisasi alat medis atau gigi, karena dapat meninggalkan noda.
4) Formaldehida 8 %
·         Merupakan  konsentrasi yang cukup ampuh untuk mematikan sebagian besar mikroorganisme.
·         Daya kerjanya adalah berkaitan dengan amino dalam protein mikrobia.
·         Bahan ini bekerja secara lambat dan memerlukan tingkat kelembaban relative sekitar 70%.
·         Formaldehide biasa dijual dalam bentuk polimer padat paraformaldehide dalam bentuk flakes atau tablet atau dalam bentuk formalin.
5) Glutaraldehide
·         Bahan  ini bersifat non korosif dan bekerja lebih cepat daripada formaldehid, hanya diperlukan beberapa jam untuk membunuh bakteri.
·         Bahan ini aktif melawan bakteri vegetatif, spora, jamur, virus yang mengandung lipid maupun yang tidak.
6) Gas etilen oksida
·         Gas  ini digunakan terutama untuk mensterilkan bahan yang dibuat dari plastik.
7) Natrium diklorososianurat
·         Bahan  ini berbentuk bubuk, berisi 60% klor.
·          Diterapkan pada tumpahan darah atau cairan yang bersifat memiliki bahaya biologi lain selama 10 menit baru kemudian dilanjutkan dengan pembersihan yang lebih lanjut.
8) Kloramina
·         Bahan  ini berbentuk serbuk berisi 25% klor, dan hamper tidak berbau.
·         Bahan ini dapat digunakan untuk membasmi kuman air pada minuman.
·         Ketika digunakan pada konsentrasi akhir dengan hanya mengandung 1-2 mg/L klor.
9) Klor dioksida
·         Bahan  ini adalah sebuah germisida kuat dan bekerja secara cepat.
·         Bahan aktif ini didapat dengan cara mereaksikan asam klorida dengan natrium hipoklorit.
10) Senyawa fenolik
·         Senyawa  ini aktif melawan bakteri vegetatif dan virus lipid, namun tidak aktif dalam melawan spora.
·         Senyawa ini biasanya berupa Triklosan dan Klorosilenol yang biasa digunakan sebagai antiseptik.

11) Senyawa Amonium Kuartener
·         Banyak  digunakan sebagai campuran dan juga dikombinasikan dengan germisida lain, seperti alkohol.
12) Hidrogen peroksida dan peracis
·         Merupakan  oksidan kuat dan germisida efektif yang berspektrum luas.
·         Bahan ini dinilai lebih aman bagi manusia dan lingkunagn daripada klor.
Kelompok – kelompok utama bahan antimikrobial kimiawi :
1.      Fenol dan persenyawaan fenolat
Fenol (asam karbolat), yang digunakan untuk pertama kalinya oleh Lister sekitar tahun 1860 – an di dalam pekerjaannya untuk mengembangkan teknik – teknik pembedahan aseptik, telah lama merupakan standar pembanding bagi desinfektan lain untuk mengevaluasi aktivitas bakterisidanya. Pada masa kini telah tersedia banyak desinfektan lain jauh.
2.      Alkohol
Sterilisasi dengan bahan kimia digunakan alkohol 70 %. Menurut Gupte (1990), etil alkohol sangan efektif pada kadar 70 % daripada 100 % dan ini tidak membunuh spora. Sterilisasi dengan alkohol dilakukan pada proses pembuatan kultur stok dan teknik isolasi. Alkohol 70 % disemprotkan pada tangan praktikan dan alat-alat seperti makropipet dan mikropipet. Menurut Volk dan Wheeler (1988), alkohol bila digunakan pada kulit kontaknya terlalu pendek untuk menimbulkan banyak efek germisida dan alkohol segera menguap karena sifatnya mudah menguap. Namun alkohol dapat menyingkirkan minyak, partikel debu, dan bakteri. Menurut Gupte (1990), alkohol 70 % dapat menyebabkan denaturasi protein dan koagulaasi.
3.      Halogen
4.      Logam berat dan persenyawaannya
5.      Deterjen
6.      Aldehide
7.      Kemosterilisator gas



















BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Masing-masing bahan disinfektan tersebut mempunyai karakteristik sendiri dan tidak dapat saling mengganti satu sama lain. Karakteristik disinfektan yang ideal yaitu bersprektum luas, membunuh kuman secara cepat, tidak dipengaruhi faktor lingkungan, tidak toksik, tidak korosif atau merusak bahan, tidak berbau, mudah pemakaiaanya, ekonomis, larut dalam air, dan mempunyai efek pembersih. Sterilisasi dengan kimiawi dapat dilakukan dengan bahan klor, alkohol, yodium, formaldehida 8 %, glutaraldehide dan lain – lain.

B.     SARAN
Sebelum melakukan sterilisasi dengan kimiawi perlu dikaji terlebih dahulu benda yang akan di sterilisasi. Setelah itu pilih bahan yang efektif sesuai dengan tujuan sterilisasi.








DAFTAR PUSTAKA

Pelczar,M.J, E.C.S. Chan. 1988. “Dasar – Dasar Mikrobiologi”. Jilid 2. Jakarta : Universitas Indonesia (UI- Press).
Anonim, 1995 Farmakope Indonesia, IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Fardiaz, Srikandi. 1992. ikrobiologi Pangan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. PAU Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor.
Lay, B. W. dan Hastowo. 1982.Mikrobiologi. Rajawali Press Jakarta.
Hadioetomo, R.S. 1985. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. PT.Gramedia.Jakarta.
Volk, W.A. dan Wheeler, M.F. 1988. Mikrobiologi Dasar. Penerbit Erlangga. Jakarta